Selasa, 06 September 2011

AJISAKA SESEPUH JAWADWIPA DAN PENGHUNI AWAL PULAU JAWA (satu)

Siapakah Ajisaka yang disebut sesepuh Jawa?Ajisaka dari kata sanskrit Ajivaka artinya pertapa pengelana.Nama aslinya Siddhattha Sanjaya,yang berarti yang tercapai cita-cita sebagai pemenang.Masa hidupnya sejaman dengan Pangeran Siddhartha Gautama (sekitar 563-483 SM).Berasal dari Keling (India) ada pula yang menyebut dari negeri Rum.Dalam serat ramalan(jangka) Jayabaya Gancaran disebutkan bahwa negeri Rum atau disebut Brusah terletak di sebelah utara Negeri Arab(sekarang Turki Asia).Nama Rum (Rhum) adalah sebutan untuk minuman fermentasi dari air tebu yang banyak terkenal diproduksi orang-orang India kuno.Pd masa Christopher Colombus minuman rhum ini menyebar ke wilayah Hindia Barat (Karibia) yang wilayahnya meliputi kepulauan Turki kuno dan Amerika.Semua wilayah tersebut kemudian merupakan penghasil minuman rhum.Jadi Negeri Rum tidak ada kejelasan maksud apakah yang dimaksud India,Romawi,Turki Asia,penduduk Karibia atau mana?Yang jelas berdasarkan temuan-temuan percandian di Dieng sangat dipengaruhi arsitektural Gupta dan Calukya yang notabene keduanya adalah gaya wilayah Keling (India).

Dalam perjalanan keliling dunia yang dilakukan oleh Christopher Colombus,suatu ketika Colombus ingin mendatangi Negeri India.Tatkala ia sampai pada sebuah pulau yang menarik ia mengira bahwa dirinya telah sampai di India.Namun rupanya pulau tersebut bukanlah India,melainkan kepulauan Amerika.Penduduknya menyajikan minuman fermentasi dari tetes tebu (rhum),terasa nikmat diteguknya.Rupanya minuman rhum di pulau itu sedemikian berkembang sehingga fermentasi lain seperti buah anggur pun menjadi saingan para penikmat minuman,inilah awal tentang minuman beralkohol yang dapat memabukkan.Karena tujuan utamanya adalah India dan Colombus belum berhasil menginjakkan kakinya di sana,ia menamai pulau tersebut dengan kepulauan Karibia,atau dengan nama "India Barat" berasal dari ide Christopher Columbus yang mengira dia telah mendarat di India (Jambudwipa,Keling) ketika dia sebenarnya mencapai Amerika.

                                          



Siapakah penghuni awal pulau Jawa?Mengenai penghunian awal Pulau Jawa,Thomas Stamford Raffles (1781-1826) dalam karya masterpeace-nya,History of Java,pada Bab X,"Sejarah (peradaban) Jawa dari Awal Tradisi Hingga Munculnya Islam" menguraikan secara panjang lebar sebagai berikut:

Diantara berbagai cerita tradisional yang berhubungan dengan tata kehidupan di Pulau Jawa dan kepulauan Timur lainnya,yang telah dihuni penduduknya sejak dahulu,dan sumber tulisan yang dibuat ketika orang-orang di sana sudah mulai mengenal tulisan,diketahui bahwa para penghuni pulau Jawa pertama datang dengan menggunakan perahu-perahu dari Laut Merah (Laut Mira).Dan di dalam keterangan itu juga disebutkan bahwa orang-orang tersebut menyusuri sepanjang pantai di Hindustan.Pada waktu itu,teluk tersebut membentuk sebuah daratan benua yang tidak terpisahkan dengan daratan di Kepulauan Hindia (Belanda),tetapi pada saat ini keduanya telah jauh terpisahkan.Dan menurut berbagai cerita tradisional yang ada,keduanya kemudian terbagi menjadi begitu banyak pulau yang saling berjauhan yang diakibatkan oleh adanya beberapa pergerakan alam atau revolusi perubahan elemen-elemennya.

Orang-orang tersebut diperkirakan yang dibuang dari Mesir,dan terdiri berbagai macam individu yang menganut berbagai kepercayaan agama yang berbeda-beda pula.Mereka kemudian membawanya bersama menuju ke tempat pengasingan mereka,termasuk cara-cara pemujaan dan juga perlengkapan yang digunakan.Beberapa dari mereka dikatakan memuja matahari,yang lain memuja bulan,beberapa lagi memuja elemen api atau air,dan sisanya memuja pepohonan di hutan.Seperti halnya manusia-manusia yang tidak beradab lainnya,mereka juga sangat tertarik pada seni ketuhanan dan khususnya yang berhubungan dengan praktik astrologi.Di dalam pandangan lainnya,mereka dideskripsikan sebagai orang-orang liar yang tinggal berkelompok tanpa tempat tinggal tetap dan tanpa mempunyai perlindungan yang berupa pemerintah reguler atau batasan hukum yang ditetapkan.

Di luar itu Raffles menganggap bahwa mereka sebagai manusia-manusia yang tidak beradab.Tetapi konon,mereka sangat tertarik pada seni ketuhanan dan khususnya yang berhubungan dengan praktik astrologi.Padahal parktik seni ketuhanan dan astrologi jelas mengindikasikan bahwa mereka telah memiliki pandangan terhadap dunia dan sejarahnya.Yakni,suatu yang identik dengan makna intelektualitas,religi,dan pandangan kesejarahan.Sehingga pandangan yang dideskripsikan sebagai orang-orang liar yang tinggal berkelompok tanpa tempat tinggal tetap dan tanpa mempunyai perlindungan yang berupa pemerintahan reguler atau batasan hukum,wajib dipertanyakan.Terbukti dalam hal ini Raffles selain juga menguraikan bentuk dan jalinan tata hubungan (etika) sosial antar masing-masing orang,yang menurutnya barulah melulu didasarkan pada aspek usia,ia juga mencatat adanya kebiasaan sosial dan sistem religi (ritual) yang cukup menarik.Dalam tulisan kelanjutannya Raffles menuliskan bahwa:

Penghormatan terhadap usia hanyalah satu-satunya hal yang ditaati oleh mereka.Orang tertua di dalam kelompok dipandang sebagai tetua mereka dan berhak untuk mengingat pergerakan-pergerakan sederhana atau melakukan kewajiban-kewajiban politis.Ketika hasil panen telah dikumpulkan dan upacara persembahan dilakukan tetualah yang menetapkan cara dan waktu keberangkatan kelompok dari satu tempat ke tempat lainnya.Pada kesempatan ini,suatu kelompok setia memberikan persembahan mereka dan merayakannya di sebuah dataran terbuka kemudian meninggalkan sisa hidangan mereka untuk menarik perhatian burung yang disebut ulunggaga  dan para pemuda pun memainkan angklung,serta menyuarakan teriakan-teriakan menirukan suara burung tersebut.Apabila sang burung tidak mau memakan hidangan yang disajikan,atau jika setelah itu tetap terbang di udara,hinggap perlahan di atas pohon,atau jika arah terbangnya berlawanan arah dengan arah terbang yang diharapkan kelompok itu,berarti keberangkatan mereka harus ditunda dan pemujaan serta persembahan mereka harus diperbarui.Akan tetapi,jika burung itu memakan hidangan,lalu terbang searah dengan arah perjalanan yang dilakukan,upacara itu diakhiri dengan menyembelih dan memanggang seekor kambing,anak kambing atau hewan lainnya yang masih muda sebagai sebuah persembahan rasa terima kasih mereka terhadap yang disembah.Dan atas terkabulnya pertanda yang sangat diharapkan,mereka menikmati perayaan sebentar,kemudian diakhiri dengan demonstrasi(pertunjukan) yang paling ramai untuk merayakannya,dimana seluruh orang menari dan melompat sambil diiringi musik angklung.Semuanya telah diatur untuk perjalanan itu,di mana orang yang tertua dari kelompok,serta istri dan anak-anaknya masing-masing ditempatkan di atas seekor gajah atau dibawa dalam sebuah tandu yang berteduhkan kain.Sedangkan sisanya berjalan kaki,yang diawali oleh para pemuda dan anak laki-laki sambil membunyikan angklung dan berteriak keras dengan tujuan sebagai tanda penghormatan kepada tetua juga untuk menakut-nakuti hewan-hewan liar,yang pada saat itu tinggal di hutan pulau-pulau tersebut.Akan tetapi,ini hanyalah dari cerita perkiraan mengenai awal kedatangan Adi atau Ajisaka,di mana orang-orang Jawa,bahkan di dalam tradisi mereka,mencoba untuk memasukinya hingga kedetail-detailnya.


Tetapi yang menarik bahwa Raffles mengakui bahwa data yang ia tuliskan diatas konon hanyalah data yang berasal dari perkiraan semata.Di sini ia menyadari bahwa data "sejarah Jawa" yang ia ungkap,bukanlah data sejarah dalam arti yang sebenarnya.


 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar